Custom Search

Thursday, May 14, 2015

BUKU KETIGA DIJUAL ONLINE
Saya belum punya rencana untuk menjual di toko buku, buku saya yang ketiga, saya jual online. Bila berminat, silahkan kirim nama dan alamat ke bukuterapialif@gmail.com  Kalau bukunya sudah ada insyaAllah akan dikabari lewat email. Buku yang dibeli langsung dari saya akan saya tanda-tangani.


TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Wednesday, May 13, 2015


BUKU KETIGA SUDAH SIAP CETAK

Alhamdulillah, saat ini persiapan untuk naik cetak sudah rampung, semuanya lancar, tinggal memutuskan percetakan mana yang dipilih. Hari ini saya keliling lagi menengok percetakan2 untuk mendapatkan yang paling cocok, saya menginginkan buku saya yang ketiga ini buku yang bagus dan menarik baik dari penampilan/perwajahan maupun dari sisi isi kandungannya. Kalau tidak ada halangn yang berarti itu tandanya Rabbku mengijinkan untuk diterbitkan.
Alhamdulillah, Rabbku senantiasa menolong dan membimbing saya dalam menulis buku sehingga untuk menerbitkan sendiri buku baik yang kewtiga ini maupun yang akan datang saya tidak butuh editor. Ini sudah teruji dengan dua buku saya sebelumnya MENDIAGNOSIS PENYAKIT NONMEDIS dan SEMBUH SEKETIKA BUKAN MUKJIZAT ATAU KEAJAIBAN. Awalnya sebelum saya menyerahkan naskah buku, pihak Penerbit PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO menegaskan bahwa sebelum naskah diterima untuk dicetak minimal tiga kali bolak-balik antara saya dan penerbit untuk koreksi dan perbaikan. Alhamdulillah dua naskah buku saya tidak mengalami koreksi apapun, karena mereka bingung mencari apa yang bisa dikoreksi. Jadi naskah dua buku saya tadi, begitu dikirim adalah naskah jadi, naskah final buat mereka karena saya sudah mengedit sendiri dan sangat teliti menurut kemampuan saya. Maha Suci Allah Ta'ala Rabbku Yang Maha Belas Kasih. 

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Tuesday, May 12, 2015

JH Alifulhaq, Buku ketiga saya,MEMBURU IBLIS SAMPAI KE SARANGNYA insyaAllah dalam waktu sekitar sebulan sudah dicetak. Yang mau pesan, silahkan kirim nama dan alamat lengkap ke
bukuterapialif@gmail.com



TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Sunday, October 7, 2012

SEBAIKNYA SAIN KEDOKTERAN MERUJUK KEPADA AL QUR'AN



Kita telah berduka atas kepergian Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH.DR.PH pada Rabu siang 2 Mei 2012 yang lalu. Duka tadi  menyisakan pertanyaan bagi kita. Rasanya pernyataan, itu sudah takdir,  terlalu naif dan syarat ironi mengingat posisi beliau sebagai seorang petinggi yang memimpin segala hal yang berkaitan dengan kesehatan di negeri ini disamping beliau sebagai salah seorang pakar bidang kesehatan. Para kampiun di bidang kesehatan dan ditopang oleh tekhnologi  mutakhir bidang kedokteran  tidak diragukan telah bekerja keras dan maksimal menolong beliau melawan kanker yang menggerogoti paru-parunya, tetapi tidak berhasil.  Banyak kasus serupa atau mirip yang diderita oleh orang awam yang tidak diexpose ke permukaan.  
Mungkin juga ada diantara kita yang yakin bahwa sain di bidang kedokteran sudah memasuki usia senja dan stagnan seperti anggapan sejumlah pihak, sehingga mandul ketika berhadapan dengan sejumlah kasus penyakit.  
Memandang manusia secara utuh
 Sain bidang kedokteran dengan para ahli/pakarnya di bidang tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apa yang dilakukan oleh para pakar tadi dalam menangani berbagai kasus penyakit yang diderita oleh pasien tidak boleh keluar dari text book sain bidang kedokteran.  Persoalannya banyak kasus penyakit di masyarakat belum ada di text book tadi, kalaupun ada penggambaran dan cara penanganannya tidak akurat.
Dasar pandangan yang dianut oleh sain kedokteran bahwa manusia adalah salah satu jasad hidup seperti makhluq hidup lainnya. Atas dasar ini sain kedokteran memandang segala aktivitas yang terjadi pada jasad manusia lebih dititik beratkan sebagai proses fisis. Kerusakan dan kelainan sel sampai ke jaringan dan organ-organ tubuh yang dibangunnya dipandang sebagai proses fisis belaka, sehingga pengobatan yang dilakukan lebih bertumpu pada pembedahan dan pemberian obat sebagai proses fisis dalam upaya memperbaiki kerusakan dan kelainan tadi. Memang tidak ada yang salah penanganan semacam ini selama penyebabnya murni fisis.   
Persoalan akan muncul ketika penyebab kerusakan atau kelainan tidak mampu dideteksi dengan peralatan kedokteran yang paling canggih sekalipun. Jadilah pakar atau dokter mendiagnosis penyakit hanya bermodalkan prediksi dari gejala yang muncul pada diri pasien. Mungkin untuk kasus sederhana yang tidak terlalu membahayakan pasien cara seperti ini tidak apa-apa dan lazim, tetapi untuk kasus berat yang menentukan hidup mati seorang pasien sangat mahal taruhannya untuk dilakukan. Cukup banyak kasus semacam ini saya temui selama menggeluti  pengobatan nonmedis tiga puluh tahun lebih.  
Satu kasus pernah saya tangani menimpa seorang gadis, mahasiswi  Perguruan Tinggi Negeri. Pasien sudah berbaring selama 24 hari di sebuah rumah sakit papan atas di Jakarta. Dia putri seorang dokter senior yang bertugas disitu. Tim dokter yang dibentuk khusus untuk menangani pasien tadi memeriksa setiap 10 menit, tapi bapaknya tidak masuk tim karena begitu aturan disitu. Diagnosis dokter menurut bapaknya, putrinya terserang typhus, tetapi diberi anti thypus selama 24 hari tidak ada perubahan apa-apa sebagai tanda kearah kesembuhan. Malah tim dokter meminta izin untuk cuci darah putrinya. Saya tanyakan padanya, apakah tidak salah mengambil tindakan medis sebelum diagnosisnya jelas dan terang. Dan saya tegaskan lagi bahwa putrinya menderita penyakit nonmedis. Pengalaman saya dalam menangani kasus nonmedis, tindakan medis yang salah seperti itu  akan sangat fatal,  pasien tidak akan tertolong jiwanya. Dokter senior tadi penasaran bercampur khawatir mendengar pertanyaan dan penegasan saya. Dia bertanya dan berdiskusi selama berjam-jam tentang dasar pemahaman saya yang mendasari pengobatan yang saya lakukan.
Saya tegaskan bahwa saya memandang manusia secara utuh seperti yang diajarkan oleh Al Qur’an.  Manusia terdiri dari komponen utama yaitu, jasad, jiwa dan ruh. Ilmu kedokteran lebih fokus mempelajari jasad, sementara jiwa seperti diabaikan. Ada juga upaya sain kedokteran mempelajari jiwa manusia lewat psychology, tetapi sifatnya hanya meraba-raba melalui gejala aktivitas manusia, tetapi tidak pernah sama sekali menyentuh  jiwa sebagai materi pokok. Padahal penyakit nonmedis dan sebahagian penyakit medis disebabkan karena terjadi error pada jiwa atau bahagian jiwa manusia.
Memahami manusia sebagai makhluk hidup secara utuh bukanlah memahaminya sebagai jasad yang hidup seperti pandangan sain kedokteran, tetapi pemahaman yang mendasar bahwa didalam jasadnya ada jiwa dan ruh yang membuat dia jadi hidup, bisa beraktivitas apapun baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Jiwa yang membuat manusia merasakan sakit, nikmat, senang, gembira dan sebagainya. Apa yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh jasad, semua atas perintah dari jiwa. Kalau jiwa atau bahagian jiwa seorang anak manusia error, maka error juga perintah yang diberikannya ke jasad. Tanpa memperbaiki bahagian jiwa yang error dan menjadi penyebab penyakit pasien, tidak mungkin pasien itu sembuh.
Dokter senior tadi percaya dan yakin dengan pendapat dan pemahaman saya, dia tidak memberi izin cuci darah putrinya kemudian mengikuti konsep pengobatan yang saya paparkan. Beberapa hari kemudian putrinya sembuh total.


Mengenal jiwa manusia
Al Qur’an mengajarkan kita banyak sekali tentang jiwa manusia baik tersurat maupun tersirat. Dalam setiap jasad manusia ada satu jiwa yang terikat disitu sebagai jiwa utama atau jiwa pertama. Jiwa inilah yang pertama diciptakan oleh Allah sebelum jasad diciptakan. Jiwa pertama ini yang memerintahkan jasad sampai ke bahagian paling kecil dari jasad untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Disamping itu ada jiwa sekunder yang jumlahnya sangat banyak untuk setiap orang yang biasanya keluar  masuk jasad.   Jiwa sekunder inilah yang berinteraksi dengan jiwa sekunder makhluq lain, apakah yang kasat mata seperti manusia lain, binatang dan tumbuh-tumbuhan atau jin dan syetan yang tidak kasat mata.
Umumnya penyakit nonmedis disebabkan oleh interaksi jiwa sekunder ini dengan pihak lain, pihak lain yang menyiksanya atau membuatnya tersiksa karena berbagai sebab. Siksaan ini dirasakan oleh jiwa pertama yang melekat di jasad dan lebih ekstrim lagi jiwa pertama yang merasakan siksaan tadi memberi order yang error pada sel atau kelenjar untuk berbuat sesuatu seperti  membuat sel kanker dan tumor atau tidak berbuat sesuatu seperti tidak memproduksi atau membatasi produksinya seperti insulin pada penderita diabetes. Perintah yang error ini sangat bertentangan dengan system keimbangan atau pertahanan dalam tubuh anak manusia yang bersangkutan. Tanpa membenahi jiwa sekunder yang error tadi tidak mungkin si pasien bisa disembuhkan.
Sayangnya jiwa-jiwa sekunder ini hanya bisa dijangkau dan ditata oleh orang yang piawi menggunakan jiwa-jiwa sekunder mereka seperti orang-orang yang mendalami dan aktif dalam kegiatan olah spiritual bukan dalam pengertian klenik dan mistik atau semacamnya.
Aktivitas jiwa-jiwa sekunder terjadi di dimensi dan sub dimensi lain dari alam semesta ini. Tetapi bukan dimensi-dimensi yang diyakini keberadaannya oleh ahli fisika pada dimensi-dimensi ruang waktu lengkung dalam konsep formulasi metamatika yang tidak bisa dibayangkan  dan tidak bisa dihayalkan sama sekali. Dimensi yang saya maksud adalah suatu realitas yang hanya bisa dideteksi dan dijangkau oleh kita secara sadar maupun tidak sadar  pada tingkat kepekaan tertentu dalam merasakan  jiwa-jiwa kita sendiri dam jiwa-jiwa pihak lain.
Ada baiknya para pakar atau ilmuwan di bidang kedokteran membuka diri dalam penelitian tentang jiwa manusia ini, bukan dalam hal perdukunan, mistik atau klenik, tetapi suatu ilmu jiwa terapan yang akurat berpijak pada pengajaran Al Qur’an dan fakta empiris yang valid dan begitu banyak. Kita berharap apabila dasar pemahaman yang akurat tentang jiwa disusun menjadi suatu standar baku dalam penanganan kasus nonmedis, maka akan lebih banyak kasus penyakit yang masih gelap dan jadi misteri selama ini bisa disingkap, tanpa hanya bisa berkilah dengan kata takdir dalam  menyikapi kematian seorang pasien.


Jatiasih, 8 Juni 2012,

Friday, September 2, 2011

PENENTUAN HITUNGAN BULAN MENURUT RASULULLAH SAW

Banyak hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi menegaskan bahwa untuk menentukan awal bulan kalender tahun Hijriah adalah dengan melihat munculnya bulan baru di ufuk Barat setelah matahari tenggelam. Dalam hadits yang banyak itu juga ditegaskan bahwa satu bulan tahun Hijriah bisa 29 hari atau bisa 30 hari dan apabila panglihatan dari melihat bulan baru terhalang misalnya karena awan, Rasulullah memerintahkan agar satu bulan digenapkan menjadi 30 hari.
Apabila umat Islam konsisten dengan hadits yang mensyaratkan penentuan awal bulan dengan penglihatan mata telanjang, maka posisi bulan saat matahari terbenam menurut ahli astromi harus berada 7 derajat diatas horisan, kurang dari itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang seperti yang disyaratkan oleh hadits. Jadi pihak yang menentukan syarat bulan berada minimal 2 derajat diatas horisan saat matahari terbenam bertentangan dengan hadits-hadits tadi karena posisi 2 derajat diatas horizon tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Tetapi ada salah satu hadits shahih tentang penentuan jumlah hitungan bulan ini yang jarang dibahas malah boleh dikatakan tidak pernah dibahas sama sekali yaitu salah satu hadits shahih Muslim yang artinya sebagai berikut :
Dari Ibnu Umar r.a. , katanya Rasulullah saw bersabda : “ kita kaum yang ummi ; tidak pandai menulis dan berhitung. Sebulan adalah segini dan segini. Beliau menekuk sebuah jempolnya kali yang ketiga. Dan sebulan adalah sebegini, sebegini, sebegini, yakni cukup tiga puluh hari “.
Apabila kita memahami secara mendalam penegasan hadits diatas “ kita kaum yang ummi; tidak bisa menulis dan berhitung “, tentu kita akan sampai pada suatu kesimpulan yang akurat dan tidak terbantahkan bahwa satu-satunya jalan bagi kaum yang ummmi untuk menentukan awal bulan kalender tahun Hijriah adalah melihat penampakan bulan sabit dengan mata telanjang, tidak ada selain dari itu.
Pertanyaannya sekarang, apakah penentuan awal bulan kalender tahun Hijriah dengan melihat kemunculan bulan muda di ufuk Barat saat matahari terbenam masih relevan bagi kita yang bukan lagi kaum yang ummi ini.
Saya yakin se yakin-yakinnya bahwa penentuan awal bulan kalender tahun Hijriah bagi kita yang sudah pandai menulis dan berhitung ini, harus dengan dengan perhitungan atau hisab, tidak relevan lagi penentuan dengan melihat kemunculan bulan dengan mata telanjang. Hal ini merujuk pada ayat 185 surah Al Baqarah yang saya bahas di blog saya ini juga dengan judul, 1 SYAWAL 1432 JATUH PADA 30 AGUSTUS KALAU BERPEDOMAN PD AL QUR’AN ( silahkan klik judulnya ).
Mudah-mudahan artikel ini membuka kesadaran kita agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam menentukan awal bulan kalender tahun Hijriah.

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Monday, August 29, 2011

1 SYAWAL 1432 H JATUH PADA 30 AGUSTUS KALAU BERPEDOMAN PD AL QUR’AN

Kesimpang siuran penentuan awal bulan Ramadhan dan 1 Syawal tahun Hijriah sudah terjadi di kalangan umat Islam terutama di Indonesia, begitu juga halnya dengan sekarang ini dan dianggap sebagai hal yang sangat pelik. Tetapi seandainya semuanya konsisten berpatokan pada apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an, perbedaan penentuan tanggal peristiwa penting bagi umat Islam itu tidak perlu terjadi.
Informasi dan pendapat yang dilontarkan di berbagai media belakangan ini, semuanya sepakat bahwa posisi bulan pada tanggal 29 Agustus 2011 di wilayah Indonesia berada diatas horizon/cakrawala, meskipun di banyak tempat bulan muda ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Atas fakta ini dan menurut perhitungan bahwa memang 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Atas dasar apa pendapat ini.
Kalau kita merujuk pada ayat 185 surah Al Baqarah pada potongan ayat berupa perintah untuk memulai puasa bulan Ramadhan, Allah Ta’ala menegaskan dengan kalimat “ faman syahida minkum “ ( artinya: siapa yang menyaksikan diantara kamu ). Kata syahida dalam ayat ini berarti menyaksikan, bukan hanya melihat. Kalau perintahnya berbunyi “ siapa yang melihat “, tentu tidak akan digunakan kata syahida.
Kata syahida mengandung makna tidak hanya melihat, tetapi juga mengetahui dan memahami dari dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan, seperti yang kita temukan penggunaan bentuk perubahan akar kata ini pada Kalimah Syahadah. Arti Kalimah Syahadah berbunyi : “ Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhummad utusan Allah “. Kita tidak bisa dan tidak pernah melihat Allah sebagai Tuhan kita, tetapi kita bersaksi dan kesaksian itu atas dasar keyakinan yang berlandaskan pemahaman. Demikian pula terhadap Muhammad sebagai utusan Allah, kita tidak pernah melihat Nabi Muhammad saw, tetapi kita tahu bahwa beliau pernah hidup menyampaikan risalah yang dibawanya lewat tulisan dan catatan sejarah atau penuturun secara turun temurun.
Jadi disini jelas bahwa perintah Allah Ta’ala untuk menentukan awal bulan bukan hanya berdasarkan pada penglihatan dengan mata telanjang adanya bulan diatas horizon, tetapi juga berdasarkan pengetahuan dan pemahaman serta perhitungan keberadaan bulan diatas horizon. Kalau kita patuh perintah Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa Lagi Maha Adil, maka pegangan utama kita adalah Al Qur’an dengan penafasiran dan pemahaman yang benar tentunya.
Silahkan baca juga posting di blog ini yang berkaitan dengan pembahasan diatas di
PENENTUAN HITUNGAN BULAN MENURUT RASULULLAH SAW

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF